AGEN TAS GROSIR

Hallo Blog’ers, sista dan agan sekalian..

Untuk para agan, sista dan blog’ers mau kami infoin saat ini kami bergerak dalam penjualan grosiran tas-tas impor yang dilakukan secara online. Bagi rekan-rekan yang telah memiliki toko fashion dan mau melengkapi koleksinya namun bingung harus mencari supplier dengan harga yang terjangkau dan dibawah harga pasaran, mungkin kami dapat membantu rekan-rekan sekalian dalam menyediakannya. Saat ini toko online kami  http://www.luvitong.com menjual berbagai tas impor maupun lokal dari berbagai merek. Jika mau liat produk lengkapnya silahkan kunjungi toko online kami tersebut di http://www.luvitong.com

Lalu apa keuntungannya membeli dari kami?? Kami memberikan program retur barang-barang jika barang yang telah dibeli dari kami tidak terjual semuanya. Dengan hal ini kami bermaksud untuk memberikan seminimal mungkin resiko usaha bagi rekan-rekan sekalian.

Berapa modal yang dibutuhkan?? Dengan pembelian minimal 4 juta rupiah akan kami berikan diskon langsung 10% untuk setiap barang dan dapat mengembalikan barang-barang yang tidak laku kejual kepada kami dengan maksimum pengembalian 20% dari barang yang dibeli (contoh :jika anda membeli tas 40 buah, maka maksimum barang yang bisa dikembalikan sebanyak 8 tas). Jika menurut anda masih terlalu berat, dengan pembelian minimal 1 juta kami akan memberikan diskon langsung 10% namun tidak dapat retur barang.

Bagaimana Kalau Beli Satuan?? Anda bisa juga membeli satuan namun tidak mendapatkan harga grosir KECUALI sudah melakukan pembelian diatas 4 buah. So…..tunggu apalagi kunjungi butik online kami di http://www.luvitong.com

Bagaimana dengan ongkos kirimnya?? Harga kami tidak termasuk ongkos kirim namun untuk bulan promosi hingga Februari 2012, kami memberikan diskon ongkos kirim sebesar Rp 3000/kg keseluruh indonesia (untuk paket pembelian 4 juta).

Jika anda tertarik untuk menjadi AGEN TAS dan memiliki pertanyaan silahkan hubungi saya di :

HP : 08567032591; Email : ridwanfx@gmail.com. Pin BB : 2261B3FD

KERJASAMA UNTUK TOKO TAS

Pagi agan-agan sekalian… Setelah sekian lama luvitong.com berfokus pada online untuk mendistribusikan tas kepada konsumen kami, saat ini kami sedang memulai mengembangkan usaha untuk bekerjasama dalam pengembangan toko tas.

Saat ini kami baru berfokus pada wilayah DKI Jakarta dahulu. Lalu apa sih yang kami tawarkan kepada anda :

Jika anda memiliki toko ditempat yang strategis baik itu kios,ruko ataupun ruang usaha lainnya kami berminat untuk bekerjasama dengan anda. Lalu bagaimana sistem yang akan ditawarkan?

Sistem yang kami tawarkan adalah konsinyasi barang dagangan sehingga anda memiliki resiko hingga 0% untuk berjualan tas kami.

1. Pertama anda hubungi kami di luvitong.com ataupun kontak langsung dengan menghubungi saya di 08567032591 untuk menginformasikan lokasi ruang usaha anda. Setelah disepakati, saya akan survey lokasi ruang usaha.

2. Jika sudah oke, silahkan anda menyiapkan uang jaminan konsinyasi sebesar 75% dari total barang yang akan dikirimkan. Uang dapat diberikan pada saat penerimaan barang. Uang ini akan dikembalikan 100% pada saat kerjasama berakhir. Untuk tahap pertama, kerjasama dilakukan selama 6 bulan dan akan diperbaharui dengan kesepakatan kedua belah pihak.

3. Harga jual kepada konsumen ditentukan oleh anda sendiri, kami hanya memberikan harga dasar kepada anda.

4. Pemutaran barang paling lama dilakukan setelah 14 hari terkecuali ada permintaan dari anda jika sudah kehabisan stok.

5. Untuk pemasaran disekitat wilayah penjualan anda akan kami bantu untuk pemasarannya disesuaikan dengan budget pemasaran yang akan kami berikan. Budget bergantung dari besaran uang jaminan serta progres penjualan.

Mohon maaf sebelumnya karena saat ini kami hanya berfokus pada pengembangan toko diwilayah DKI jakarta, dan dalam waktu tidak terlalu lama maka kami akan mengembangkan di kota-kota lainnya.

ANDA BERMINAT UNTUK MEMBUKA TOKO TAS, HUBUNGI KAMI UNTUK MEMASUK KOLEKSI PRODUK JUALAN DI TOKO ANDA.

HUBUNGI SEKARANG WWW.LUVITONG.COM atau langsung ke 08567032591. (Promo berlangsung hingga Maret 2012)

MOCTHAR RIADY – Grup Lippo

Grup Lippo…Siapa yang tidak tau gurita bisnis dari grup lippo yang merambah ke semua lini bisnis. Ada kawasan terpadu yang lengkap di daerah karawaci, serta bank lippo yang sekarang sudah merger dengan bank Niaga. Saat ini Group Lippo memiliki lima cabang bisnis yakni :
1. Jasa keuangan : perbankan, reksadana, asuransi, manajemen asset,sekuritas
2. Properti dan urban development : kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.
3. Pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi.
4. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.
5. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektronik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.

Sebenernya siapa sih Mocthar Riady yang merupakan orang dibelakang kesuksesan grup lippo saat ini???

Mochtar Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking. Namun, karena ada perang, Mocthar Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia.
Mochtar Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Mocthar Riady yang dilahirkan di Malang pada tanggal 12 mei 1929 ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian perlente dan kelihatan sibuk.

Pada tahun 1951 ia menikahi seorang wanita asal jember, oleh mertuanya, Mochtar Riady diserahi tanggungjawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun Mochtar Riady telah dapat memajukan toko mertuanya tersebut menjadi yang terbesar di kota Jember. Cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang bankir membuatnya untuk memutuskan pergi ke Jakarta pada tahun 1954, walaupun saat itu dia tidak memiliki seorang kenalan pun di sana dan ditentang oleh keluarganya. Mochtar Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas.

PERJALANAN KARIER MOCHTAR RIADY
Untuk mencari relasi, Mochtar Riady bekerja di sebuah CV di jalan hayam wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil.
Sampai saat itu, Mochtar Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, di setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Mochtar Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Mochtar Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut.

Di hari pertama sebagai direktur, Mochtar Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Mochtar Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut,namun sia sia, lalu dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti.

Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Pak Andi Gappa, tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Mochtar Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Mochtar Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi. Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat.
Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Mochtar Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

KUNCI SUKSES MOCHTAR RIADY
Mochtar Riady hampir selalu sukses dalam mengembangkan sebuah bank, dia memiliki filosofi tersendiri yang ia sebut sebagai Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi memiliki karakter yang baik, Lian adalah kejujuran sedangkan Dje adalah memiliki rasa malu. Dan untuk perkembangan bisnis pada umumnya prinsip diatas tersebut sangat bermanfaat, dalam dunia bisnis yang terpenting adalah kepercayaan dari para stake holder.

Visi dan pandangan Riady yang jauh ke depan seringkali membuat orang kagum, dia dapat dengan cepat membaca situasi pasar dan dengan segera pula menyikapinya. Salah satu contohnya ketika dia berhasil menyelamatkan Bank Buana tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang mengalami masa krisis karena Indonesia berada pada masa perubahan ekonomi secara makro, ketika itu Riady sedang berkuliah malam di UI, disitu dia dikenalkan dengan beberapa pakar ekonomi seperti Emil Salim, Ali Wardhana,dkk.
Mochtar Riady segera sadar dan segera mengubah arah kebijakan Bank Buana. Pertama, dia menurunkan suku bunga dari 20 % menjadi 12 %, padahal pada waktu itu semua bank beramai-ramai menaikkan suku bunganya. Karena suku bunga yang rendah tersebut maka para nasabah yang memiliki kredit yang belum lunas segera membayar kewajibannya.
Sedangkan para usahawan yang akan meminjam diberi syarat ketat khususnya dalam hal jaminan, namun karena bunga yang ditawarkan Bank Buana sangat rendah dibanding yang lain maka banyak debitur yang masuk dan tak ragu untuk memberikan jaminan. Dengan cara itu Bank Buana menjadi sehat padahal pada waktu itu banyak klien dan bank yang bangkrut. Dengan otomatis orang mengenal siapa Mochtar Riady.

SEJARAH JARINGAN BISNIS MOCHTAR RIADY
Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin.

Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar Riady bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing.

So….apa rekan-rekan ingin mengikuti jejaknya??

Dunia akan terasa sempit jika kita melihatnya sempit, dan akan terlihat luas jika kita melihatnya luas. Lihat juga anak bayi, walaupun mereka mencoba berjalan dan terjatuh serta menangis, namun tetap saja ia mencoba untuk belajar berjalan terus. Itulah dunia,walau bikin kita sakit dan menangis dengan kegagalan,tapi harus tetap untuk mecoba kembali dan tetap berusaha.

salam entrepreneur

 

Gagalnya Usaha Gerobakan ANE:(

Hmmmm…judulnya sepertinya tidak enak sekali…but guys and sist,just wanna share my experience only…sebenernya belum gagal tapi sedang dalam performance yang tidak cukup baik.

Cerita awal kejadian awal tahun 2011 gara-gara penerimaan masih sangat kecil jadi kepikiran untuk memulai bisnis. Saya mulai berkenalan dengan bisnis saat kuliah namun setelah lulus semua bisnis saya tutup karena berorientasi kerja :( dasar pengusaha bodoh yah gini :p.

At least berdasarkan slip gaji kantoran dan bpkb motor lama dateng deh ane ke Bank Mandiri Syariah buat nyari pinjaman usaha. Makan waktu hampir 1 bulan untuk prosesnya sampai uangnya cair dan disetujui senilai 10 juta. Mulai deh ane berburu untuk usaha, ane nanya2 sama om google mengenai gerobak-gerobak franchise yang dijual pemiliknya dan dapetlah gerobak bekas untuk usaha crepes (licensenya udah mau habis). Berikut list down investasi saya :

  1. Harga gerobak bekas seharga 4,5 juta (klo baru 8,5 juta)
  2. Perpanjang lisence 600 ribu untuk setahun (tidak ada franchise fee berdasarkan omset)
  3. Bayar mobil Pick up buat angkut 350 ribu.
  4. Sewa tempat bulan pertama 300 ribu
  5. Beli gembok dan peralatan lain 500 ribu
  6. Total semuanya Rp 6,25 juta

Ternyata nyari tempat usaha susah juga. Maklum masih awam. Pertama kali saya list down alfamart dan indomart disekitar rumah saya. Waktu itu saya kumpulin hampir 10 tempat. Datengin satu-satu nanya mengenai sewa teras dan ketersediaan tempatnya untuk disewa. Ternyata sewa teras laku juga, banyak yang penuh. Klo untuk alfamart waktu itu klo mau sewa harus telepon supervisor areanya (klo menurut saya cukup repot juga si) klo yang indomaret masuk tokonya minta formulir sewa lalu kita isi dan berikan kepada kepala tokonya yang nanti akan kabarin kita. Awalnya saya kira tinggal nunggu kabar,tapi karena terlalu lama maka saya teror terus deh dengan telepon (setelah saya cocok dengan tempat di indomart) supaya bisa dipercepat. Mulai berburu tempat dari awal januari dan akhirnya dapat menempati area berperang untuk usaha awal februari. Syukurlah satu-satu selesai.

Tapi ternyata lebih susah lagi nyari orang..hahahaha….susah men amit2…susah-susah gampang sih. Selama belum dapet karyawan hanya berjualan sabtu dan minggu hari biasa kerja kantoran. Hari pertama jualan…wah banyak keringetannya karena tegang menghadapi pembeli si yah..apalagi klo ada yang cerewet :p..but like the beatles say “Let it Be..Let it Be”. Namun kenyataan tak seindah cerita,klo dari brosur franchisenya dibilang 3 bulan dah BEP tapi kenyataannya ada banyak rintangan yang harus kita selesaikan sendiri apalagi omset,masih minim. Akhir kata pertengahan februari ane dapet karyawan yang baru 1 hari ditraining sudah langsung bisa jualan. Hari pertama oke ga ada masalah (walau masalah pada omset) terlebih tidak ada keinginan untuk meninggikan omset (walau ada iming-iming pembagian x% dari omset). 3 hari kerja minjem uang 100ribu (saya kasih karena mikirnya nanti dipotong saat dia gajian). Ternyata baru seminggu orangnya sudah mengundurkan diri dan harus cari orang baru lagi deh :(.

Perburuan pun dimulai kembali dengan menempel-nempel brosur, masukin ke poskota dan masuk ke kaskus. Sudah ada beberapa yang daftar dan ditraining,ternyata nyari orang yang mudah diajarin sedikit susah dan juga kelemahan dari usaha grobak kita sulit memberi fasilitas yang lebih apalagi omset yang belum tinggi, (waktu itu masih dibawah 100 ribu/hari) akhirnya sampai dapet orang yang bisa diajarin. Nah orang ini yang bertahan lama sampai sekarang. Akhirnya masalah tempat dan karyawan sudah teratasi dan sekarang omset yang bermasalah. Untuk orang ini jujur saja memiliki semangat yang cukup tinggi dan saya tidak memberlakukan gaji namun bagi hasil dimana omset 45% dari omset dibagi 60% untuk penjual dan 40% untuk saya. 55% dari omset untuk biaya bahan baku dan sewa tempat maupun pengeluaran lainnya. Namun untuk menanjak omset diatas 100 ribu sangat sulit, paling beberapa hari saja. Sudah bulan april pertengahan namun kondisi omset masih kurang membaik. Saya selalu mengambil uang sisa hasil penjualan untuk dimasukkan dalam kas setiap harinya, karena sekalian lewat pulang kantor. Akhir april karena omset kurang membaik maka saya memindahkan tempat berjualan sesuai saran dari pegawai saya tersebut didaerah tempat tinggalnya. (sayapun menyetujuinya dengan pertimbangan untuk menghilangkan biaya sewa tempat karena rencana berjualan keliling serta pegawai saya tidak membutuhkan ongkos transportasi untuk ke tempat jualan karena sekitar rumahnya). Daerah baru tersebut diselatan jakarta dekat pasar minggu.

Awal operasi ternyata omset daerah sini cukup bagus sehingga saya mendapat kenaikan omset lebih dari 50% dimana angka 150 ribu atau 200 ribu bukan perkasa terlalu sulit. Namun karena jauh dari tempat tinggal saya jadi saya tidak tiap hari mengontrolnya,hanya tiap minggu saja. Karena kurang terkontrol managemen kas saya jadi berantakan,apalagi omset sering dipakai untuk dipinjam walaupun sampai sekarang masih dicatat pada hutang namun tidak pernah terbayar. Terlebih karyawan saya suka sakit sehingga waktu efektif berjualan menjadi sedikit (sebulan hanya 22 hari). Namun lebih penting lagi manajemen kas,uang di catatan kas cukup besar namun riilnya hampir tidak ada dan tercatat dalam hutang. Ini karena saya tidak pernah memegang uang hasil penjualan dan menyerahkan seluruh tanggung jawab ke karyawan saya.

Sampai saat ini keadaan tetap seperti ini,namun ini murni sebagian besar karena kesalahan saya terutama manajemen usaha saya walaupun omset saat ini sudah lebih dari cukup. Kadang usaha tidak cukup hanya melihat angka-angka saja, namun yang lebih penting adalah manajemen usaha serta kontrol kita terhadap usaha kita tersebut (meminimalisasi ketergantungan kepada individu tetapi harus membangun sistem).

Mudah-mudahan awal tahun baru ini saya bisa memperbaiki sedikit-sedikit supaya bisa running sebagaimana mestinya karena tiap bulan masih nombokin bayar hutang bank walau operasional saya sudah tidak keluar uang lagi.

Kesalahan terbesar saya :

  1. Untuk memulai usaha harus memiliki budget operasional untuk 4 bulan termasuk didalamnya biaya marketing diluar biaya investasi karena awal usaha omset baru minim dan baru mulai menanjak seinring dengan kenaikan konsumen maupun perbaikan dan strategi penjualan.
  2. Untuk usaha gerobak usahakan memiliki minimal 3 buah jadi bisa memberikan fasilitas tempat tinggal untuk karyawan (rata-rata karyawan belum memiliki tempat tinggal di Jakarta). Selain itu, kontrol terhadap kas dapat lebih baik. Selain itu biaya tetap dapat dibagi rata (biaya pemantauan kita :p)
  3. Jaga selalu hubungan baik dengan bank (harus rela nombok cicilan pakai gaji sendiri jika hasil usaha belum baik)
  4. Selalu jaga kontrol anda terhadap usaha anda dan akan lebih baik untuk meminimalkan karyawan anda memegang uang hasil usaha.

Walau terkadang menyesal usaha tersebut, namun prinsip saya tetap tidak semua usaha akan mendatangkan untung namun kita tak pernah tau jika kita tidak mencobanya. Hal ini terjadi pada usaha agen tas saya yang saya rintis bersama istri saya dimana omset sudah baik dan mengirimkan hingga ke seluruh pulau di Indonesia (konsumen saya mulai dari medan, kalimantan, sulawesi dan beberapa ada di Irian tidak hanya dipulau jawa saja). Yah jatuh di satu sisi belum tentu jatuh disisi lainnya…just keep trying karena bedanya orang bodoh dan pintar klo orang bodoh melakukan sesuatu dulu baru berfikir, dan orang pintar berfikir dahulu baru berbuat. Namun keuntungannya menjadi orang bodoh akan selalu melakukan usaha-usaha terus walau kadang gagal dan belajar dari kegagalan tersebut setelah mengalami medan pertempurannya., jika orang terlalu pintar kadang terlalu banyak berfikir dan mempertimbangkan resiko sehingga tidak pernah memulai-memulainya. Selalulah menjadi orang bodoh sehingga haus akan keingin tahuan :)

Jika ada saran dari saudara2 silahkan email ke pengusahabodoh@gmail.com mudah-mudahan dapat memperbaiki usaha gerobakan saya tersebut.

Eka Tjipta Widjaja

Sarjana atau lulusan universitas? Jangan keburu bangga. Sebab, ijasah tinggi bukan jaminan kesuksesan seseorang. Sebaliknya, meski ijasah rendah belum tentu pula jadi kere. Mau bukti? Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Grup, masuk 3 besar orang terkaya Indonesia versi majalah Globe Asia 2008. Kabarnya, total kekayaannya ± USD $6 miliar atau sekitar Rp54 triliun. Tapi siapa sangka, dia hanya lulusan SD. Inilah kisahnya. Nama asli Eka Tjipta Widjaya adalah Oei Ek Tjhong. Dia lahir 3 Oktober 1923. Saat kecil, keluarganya hidup dalam kemiskinan. Bersama ibunya, ia pindah ke Makassar pada tahun 1932, ketika usianya 9 tahun. Tiba di Makassar, Eka kecil – masih dengan nama Oei Ek Tjhong – segera membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang terbayar, toko ayahnya maju. Eka pun minta Sekolah. Tapi Eka menolak duduk di kelas satu. Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan. Ia keliling kota Makassar, menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya. Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu. Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya. Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang. Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40. Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kawin untuk menutup utang dagang. Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Usahanya baru benar-benar melesat dan tak jatuh-jatuh setelah Orde Baru, era yang menurut Eka, “memberi kesejukkan era usaha”. Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka usaha yang tadinya “tak ada apa-apanya” menjadi “ada apa-apanya”. Tjiwi Kimia, yang dibangun 1976, dan berproduksi 10.000 ton kertas (1978) dipacu menjadi 600.000 ton sekarang ini. Tahun 1980-1981 ia membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula. Tahun 1982, ia membeli Bank Internasional Indonesia. Awalnya BII hanya dua cabang dengan aset Rp. 13 milyar. Setelah dipegang dua belas tahun, BII kini memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset Rp. 9,2 trilyun. PT Indah Kiat juga dibeli. Produksi awal (1984) hanya 50.000 ton per tahun. Sepuluh tahun kemudian produksi Indah Kiat menjadi 700.000 ton pulp per tahun, dan 650.000 ton kertas per tahun. Tak sampai di bisnis perbankan, kertas, minyak, Eka juga merancah bisnis real estate. Ia bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy ia bangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador. “Saya Sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik,” katanya mengomentari semua suksesnya kini. “Kecuali itu, hematlah,” tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210,” Waahhh, itu cilaka betul,” katanya.

sumber : http://www.beritaunik.net

WHO Am I

Who am i?? (Pede banget yah emangnya ada yang mau nanya :p)

Yah biar kaya orang-orang terkenal lainnya ga apa2 kalo saya buat biography saya sendiri (sapa tau nanti-nanti jadi terkenal jadi ga usah bikin biography lagi).

Saya Ridwan Budiman, terlanjur lahir di Jakarta tanggal 29 Juni 1984. Ternyata sekarang saya sudah tua :(. Mengenyam pendidikan di berbagai belahan Indonesia yaitu Jakarta, Serang, Banten, Jambi, Bekasi dan terakhir dibandung. Di bandung ngambil jatah subsidi pemerintah untuk pendidikan di ITB selama 4 tahun. Sejak dikampus mulai usaha warnet,jualan komputer/laptop,pulsa sampai nilai kuliah jadinya turun :(( (derita manusia bodoh). Setelah lulus dengan menjual semua usaha diatas melanjutkan kerja di Jakarta dan sekarang bekerja di salah satu grup konglomerasi Indonesia buat nyari sesuap nasi di bidang Finance (percaya ga percaya tampaknya anda-anda harus percaya saya kuliah teknik namun kerja di corporate finance-kerenkan nama bagiannya tapi intinya nyari utangan ke bank-investor atopun nyari2 duit diluar :p bener2 ga nyambung habis). Udah kerjanya ga nyambung, sekarang kejeblos lagi jadi tukang agen tas makin jauh lagi dari bidang teknik hehehehe….Goblok tenan yo aku ini. Lalu gimana kerjanya?? untuk usaha ini full cover istri saya yang jalanin saya hanya back up karena masih ngemis kerja.

Sejarah luvitong sendiri berasal dari salah satu merek terkenal tas branded yang klo dibaca dengan logat perancis hampir2 mirip kaya luvitong dan sudah disesuaikan dengan citarasa indonesia makanya namanya jadi luvitong. Klo pke bahasa perancis takut muncrat ludahnya-ciri khas logat perancis :p. Peace men.. Dengan dukungan supplier langsung kami membuka gerai grosir online agar meminimalkan cost operational dan dapat memasang harga serendah mungkin tetapi tetap mempertimbangkan keuntungan (yah…namanya juga orang usaha).

Mungkin sekian dulu kali perkenalannya, klo saya sedikit-sedikit mulai terkenal lagi saya akan menambah kembali biography saya lagi.

Salam pengusaha tuk semuanya !!!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.